kartu all in one secure system of payment

Asosiasi Media Digital Gandeng Secure System of Payment Untuk Kartu All In One. Sekjen Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) Edi Winarto mengatakan, organisasinya siap menjadikan media online seluruh Indonesia yang tergabung dalam asosiasi Media Digital Indonesia menjadi media terpercaya dan menolak pemberitaan berbau isu SARA.

Dalam konteks itu, Asosisasi Media Digital sudah menjalankan dan punya program literasi media digital, dengan berbagai pihak. “Kami juga terbuka kerjasama dengan pihak yang awam atau siapapun yang ingin mensosialisasikan dan memasuki era digital,” ujar Edi Winarto, pemilik dan CEO Editor.id.

Edi Winarto mengaku, sosok-sosok yang tergabung di Asosiasi Media Digital banyak dari media maintream yang melebarkan sayap ke media online. Sehingga, untuk kode etik jurnalistik pastinya akan patuh dengan kode etik jurnalistik.

Bahwa ada beberapa motivator (coach) yang menjadi bagian dari Asosiasi Media Digital yang tergabung di organisasi, karena memiliki buku-buku yang dipasarkan dalam media digital, dimana sekarang semua memasarakan lewat digital, adalah bagian dari yang juga di literasi.

“Anggota organisasi kami lebih banyak para pemilik media digital atau CEO, Direktur Utama dari media digital. Ada yang berlatar belakang wartawan, banyak juga yang pengusaha lain yang ingin dan tahu media digital,” ujar Asri Hadi, Pemimpin Redaksi Indonews.id.

Asri Hadi yang kini menjadi Bendahara Asosiasi Media Digital mengingatkan, sejarah telah mencatat, pada awal Oktober 2016 silam, Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) menjadi organisasi pertama di bidang media digital.

Dirintis oleh sekitar 10 wartawan senior yang juga pemilik media. Bahwa sekarang ini banyak yang mengikuti, langkah dari Asosiasi Media Digital adalah bagian dari reformasi, yang lebih penting adalah si anggota mendapat manfaat juga saling mengisi di dalam organisasi itu.

Masih menurut Asri Hadi, dalam perkembangannya, organisasi ini berdiri dengan harapan bisa menjadi wadah bagi pebisnis media tradisional cetak yang “hijrah” atau menjadi penopang para start up di media digital.

Menolak media abal-abal, penyebar berita hoax atau media penyebar berita kebencian tidak hanya terjadi di Indonesia. Selain memantau dan mengedukasi serta meyakini anggota Asosiasi bekerja profesional sesuai kode etik jurnalistik, yang lebih penting lagi adalah bisa survive menjadi bisnis yang bisa menghidupi keluarga.

Asosiasi Media Digital menjadi garda terdepan untuk meliterasi dan mengedukasi start up (media kecil) yang tengah dirintis hingga perusahaan media digital yang sudah bisa menggaji jurnalis serta karyawannya sesuai upah standart upah minimum.

Yang ditekankan oleh Asosiasi Media Digital adalah, media konvensional di cetak, jangan merasa diri lebih tahu dan profesional.

“Karena era digital terus berkembang dan punya hukum-hukum tersendiri, bahkan ada pihak yang menyebut dirinya profesional dengan label sebagai aktivis medsos sebagai profesi. Mereka adalah mantan wartawan, yang kadang membuat media-media mirip jaringan media konvensional,” tutur S.S Budi Rahardjo, Ketua Asosiasi Media Digital yang juga Ketua Forum Pimpinan Media Digital.

Asosiasi Media Digital tak mau terjebak pada “pakem” media dalam konteks literasi kode etik jurnalistik. Termasuk, menyarankan jurnalisnya untuk ikut uji kompetensi sesuai konteksnya.

Yang juga penting adalah, di Asosiasi Media Digital terjalin hubungan dengan pelbagai startup untuk berkembang untuk mendapatkan angel investor. “Termasuk berupaya agar para pemain media digital dalam bisnisnya bisa dibantu oleh perbangkan,” ujar Jojo, CEO Majalah Eksekutif, Majalah MATRA dan NetDigital.id ini.

Bahwa media kecil yang tengah dirintis tapi komitmen bekerja profesional juga bisa berkembang diyakini oleh Asosiasi Media Digital, untuk itu Asosiasi Media Digital juga menampung media-media startup itu dengan mengedukasinya.

“Jika rekan-rekan media startup yang baru merintis tapi tidak punya komitmen bekerja profesional sesuai kode etik jurnalistik, ya silahkan berjalan sendiri. Asosiasi Media Digital punya aturan yang harus dipatuhi,” ungkap Jojo menekankan.

AMDI diharapkan menjadi wadah organisasi bagi perkembangan media digital dan memberi manfaat, seperti misalnya Kartu Anggota Asosiasi Media Digital bisa menjadi alat pembayaran digital untuk membayar listrik, telepon juga jalan tol.

“Bukan sekedar kartu anggota manual atau kartu biasa, tapi bisa menjadi kartu sakti, all in one,” ujar S.S Budi Rahardjo alias Jojo yang lewat Asiatech sedang menjajaki kerjasama sama dengan Secure System of Payment.

Sumber: http://matranews.id/2017/10/09/1298/ | Matranews (9 Oktober 2017)

Tinggalkan Balasan